Aku, untukmu.

Aku, untukmu.
Perihal jodoh tidaknya, itu bukan kuasaku.

Hanya saja..
Aku masih tetap ada untukmu. Dan kita masih tetap bersama walau musim kini beranjak coklat.
Hujan ataupun panas, musim kita tetap menua. Dan demi pergantian musim, kita hanya perlu untuk lebih bersabar. Kita hanya perlu untuk lebih banyak berdoa. Kita hanya perlu untuk lebih banyak berusaha.
Hingga musim itu tiba.
Musim yang akan menjawab segala resah.
Musim yang akan menjawab segala penantian.
Musim yang kuharap bunga bermekaran dimana-mana, sebagai penegas keindahan yang selalu kita rencanakan.

Aku untukmu, masih tetap ada untukmu.
Maka,
Simpanlah resahmu atas bayangan masa lalu.
Dan kita bersama membuat segalanya agar menjadi bukan sekedar harap.
Agar menjadi bukan sekedar rencana.

Aku untukmu,
Semoga selamanya tetap ada untukmu.

Di ‘pada akhirnya’ ..

Semua berhenti di ‘pada akhirnya’
Berhenti di seharusnya ia berhenti. Berhenti di seharusnya ia menepi. Berhenti dimana semua tiba di akhir. Ah, bukankah hidup memang untuk bertemu akhir?

Anak kecil pada akhirnya tumbuh besar
Anak muda pada akhirnya menjadi orang dewasa

Yang muda pada akhirnya menjadi tua
Yang tua pada akhirnya akan meninggal

Yang terluka akhirnya akan terobati
Yang pergi akhirnya kembali

Terkecuali, Tuhan tidak mengijinkan..

‘Pada akhirnya’ adalah suatu hal yang kita cari ketika awal perjalanan dimulai. Suatu hal yang banyak menghabiskan waktu, tenaga, pikiran bahkan rela jatuh bangun, hanya untuk bertemu dengan ‘pada akhirnya’.

Tapi,
Semua memang berhenti di ‘pada akhirnya’ yang sebenarnya bukan untuk berhenti. Melainkan; membuka awal untuk mencari ‘pada akhirnya’ yang baru.

Selamat malam.

Sebut saja; rindu.

Malam ini, aku ingin duduk tepat disampingmu. Menikmati malam yang basah, sisa dari jejak yang hujan tinggalkan setelah ia mengguyur bumi seharian ini. Menjelaskan setiap rindu yang terangkum dalam satu pelukan yang hangat ditemani berbagai perbincangan manis sebagai pelengkap pertemuan kita, sama seperti biasanya. Aku juga ingin bersandar dipundakmu. Menikmati setiap usapan tanganmu yang bermain lembut di kepalaku. Sesekali mencubiti pipiku atau mengejek hidungku. Sebelum akhirnya kita larut dalam canda tawa kita. Dan.. ah, aku memang tengah dilanda rindu. Sama rindunya seperti kemarau merindukan hujan, seperti ombak merindukan tepiannya. Ya, aku merindukanmu. Bahkan ketika rindu menjadi begitu menyesakan, aku masih tetap merindukanmu.

Teruntukmu,
Muara rinduku.

Mari Sedikit Membicarakan Kita

 

Malam, dan dingin. Bau basah terasa pekat. Hujan menjadi jawaban atas langit yang tampak mendung sejak sore tadi. Rintik-rintiknya berjatuhan dengan lembut, menciptakan suasana yang tepat bagiku. Tercipta dengan cepatnya pemandangan yang indah dihadapanku tatkala tetesan air hujan saling bertemu dibalik kaca jendela. Menyimpulkan beberapa rindu, menciptakan beberapa potong kenangan yang hadir mencoba untuk membuatnya menjadi jelas.

Sedikit membicarakan kita sama seperti menikmati beberapa cerita dari berbagai buku yang berbeda; tentang pertemuan, kasmaran, perdebatan, pertengkaran, tawa, canda, dan hal manis lainnya- pelengkap kita. Walau kau bukan seorang pangeran– putra mahkota pewaris tahta kerajaan yang mereka agungkan, dan aku bukan seorang putri dengan segala kebaikan yang banyak orang ucapkan sebagai bentuk pemujaan—kita telah bertemu dan menjalin cinta seperti buih putih ombak ditepian pantai yang takkan ada habisnya. Walau diterpa angin badai, tergulung ombak dengan bising gemuruhnya, atau menerpa keras karang sekalipun—kita tetap bertemu, pada akhirnya. Bagiku, pertemuan kita adalah teduh yang memberiku kenyamanan untuk berdiam diri ditengah panas yang menyengat. Mengenalmu adalah jawaban teka-tekiku disetiap malam; saat mencemaskan keesokan harinya, atau saat menebak-nebak tentang keesokan harinya— entahlah, penuh rasa penasaran. Hingga tiba saat aku mulai menyayangimu dan menjalani suatu hubungan denganmu, segala yang kugambarkan dengan sederhana tak bisa lagi aku sederhanakan. Karena nyatanya, kita memang bersama menjalani cerita yang tidak sederhana. Terlebih saat kita menyadari bahwa kita bukan manusia sempurna, keegoisan dan emosi sempat menjadi penjelas yang saling kita tunjukan—kita lelah sebelum akhirnya menyerah. Namun penyesalan dikemudian waktu menjadi jawaban yang benar-benar menyiksa, aku melihatmu sebagai tempatku pulang. Waktu ke waktu, kita lalui bersama. Hingga kini, saat waktu benar-benar terasa kejam sekalipun, kau selalu meyakinkanku untuk bersabar hingga saatnya tiba. Saat dimana kau menjawab segala bentuk pengorbanan kita untuk bertahan; menikahiku dan mengajakku untuk hidup bersama sampai akhir.

Aku disini, menunggumu.
Mencoba untuk bersabar, dan selalu mendoakan kita.

Bagi sebagian orang, hujan selalu mengundang rindu yang berujung duka. Tapi bagiku, malam ini hujan mengundang rindu yang membuatku merasa hidup. Seseorang itu meninggalkan jejak sama seperti manisnya coklat panas yang meninggalkan jejak diujung bibirku, mengalir di setiap tegukannya, menuju tempat dimana seharusnya ia menjadi nikmat. Aku enggan menawarkan ini pada siapapun. Sekalipun coklat yang memenuhi ruang cangkirku mulai dingin dan perlahan habis.

Kabut, Pagi itu

Entahlah. Pagi itu, seperti biasa aku melihat terang dibalik kabut yang pekat. Berada di tempat tinggi jauh dari keramaian, membuatku merasa tenang. Aku merasa tak ada satupun orang yang menggangguku dengan suara-suaranya yang lembut penuh kesinisan. Udara pagi itu begitu sejuk namun kabut yang ada benar-benar membuat pandanganku begitu samar. Aku memutuskan untuk pergi berjalan, menembus pekatnya kabut. Berjalan, dan terus berjalan. Entah apa yang membuatku terus berjalan, kaki ini terus berjalan menuju satu arah. Melewati rerumputan yang asik bermain dengan liar pada betis kakiku. Dingin, dan basah. Baunya begitu menyengat, masuk dalam rongga paruku.

Saat itu, aku merasa seseorang memperhatikanku. Seseorang yang memanggil namaku dengan artikulasi yang tenang. Sangat jelas, aku mendengar nafasnya yang teratur. Diantara suara angin dan burung yang bernyanyi meramaikan panggung kehidupan, pagi itu. Aku sedikit penasaran. Entah siapa, tapi suara itu begitu tenang. Hatiku sedikit sesak mendengarnya. Ia terus memanggil, namun semakin aku berjalan mendekat, suara itu semakin terdengar menjauh. Sepertinya, seseorang itu telah pergi menjauh dari keberadaanku. Aku abaikan, dan aku terus berjalan.

Kabut masih begitu pekat mungkin karena aku berada di ketinggian bumi. Aku terus berjalan mengikuti arah, tak ada hasratku untuk berbelok dari arah yang sebenarnya tak ingin aku ikuti. Arah ini terus aku ikuti. Aku seperti dituntun oleh angin yang membawa ragaku untuk terus berjalan. Tapi kabut pagi itu masih begitu pekat. Aku tak tau kemana arahku berjalan, dan apa yang ada didepanku saat itu. Samar. Semuanya terlihat samar.

Tiba-tiba batu besar menghalangi langkahku. Aku terjatuh, semakin terjatuh. Tubuhku berguling tak bisa lagi aku kuasai keseimbanganku. Dengan begitu cepat, aku telah jatuh berada dibawah. Sedikit luka pada tubuhku, tapi sesak hati ini semakin menjadi. Aku telah jatuh, sendiri. Di tempat yang tak kukenal, diantara semak belukar yang liar menghias tanah tanah basah. Aku ingin berteriak, memanggil siapapun yang bisa mendengar. Tapi lidahku begitu kelu. Dan kekuatanku sepertinya melemah. Aku tak sanggup berkata, apalagi berteriak minta tolong.

Aku memutuskan untuk diam, karena aku sadar tak ada satupun orang yang melihatku dibalik pekatnya kabut. Dan jika ada yang melihat, mungkin mereka akan terlalu sibuk mengurusi skenario hidupnya yang telah Tuhan beri. Tidak akan mempedulikan aku yang tengah jatuh berada dibawah sini. Aku pasrah, terlebih karena aku putus asa.

Mentari perlahan masuk diantara kabut. Memudarkan samar. Menjadikan apa yang ada disekelilingku terlihat jelas. Indahnya pagi. Terlihat jauh disana keramaian kota. Hanya pepohonan yang kini berada disekelilingku. Burung bernyanyi seolah mengerti tentang kesepianku. Tentang luka yang semakin membuatku lemas. Aku menyesal telah membiarkan angin menuntunku berjalan diantara kesamaran kabut. Aku menyesal, sungguh menyesal.

Entahlah. Ditengah isak tangisku, hati menuntunku untuk melihat ke atas, ke tempat dimana tadi aku berjalan. Tempat itu begitu tinggi, pantas saja aku merasakan sakit diseluruh tubuhku. Kekuatanku melemah, dan aku benar-benar bimbang. Memikirkan cara bagaimana aku harus kembali ke atas. Sebelum akhirnya, aku benar-benar melihat sosok lelaki berdiri diatas sana. Ia tersenyum, menatapku dari kejauhan. Ada kata yang terlihat dibalik gerakan mulutnya. Aku tercengang, sedikit senang. Aku menatapnya, penuh harap. ‘tolonglah aku..’ hatiku menjerit. Alam memantulkan suara lelaki itu. Ia berteriak, ‘tenanglah, aku akan turun menolongmu.’ Ia tersenyum, mulai membiarkan dirinya terperosot jatuh. Badannya berguling, tapi terlihat begitu hati-hati. Sepertinya, ia begitu kenal lekuk bumi yang tampak miring itu. Laki-laki itu semakin turun, dan akhirnya berada ditempat yang sama. Senyumnya mengembang, menghiasi wajahnya yang terang. Aku menatapnya penuh tanya, sesekali sedikit membalas senyumnya yang entah ada alasan apa dibalik senyumnya yang teduh itu. “jangan menangis, sekarang tenanglah. “ ucapnya, sambil membantuku berdiri.

“Tapi, kenapa kamu menolongku?” getar suaraku terdengar jelas. Setelah kukumpulkan kekuatanku, untuk sekedar bertanya.

“karena kamu harus aku tolong. “ jawabnya.

“kenapa kamu mau membiarkan tubuhmu jatuh, untuk menolongku?”

“karena terkadang, untuk menolong seseorang yang tengah jatuh, kita harus mau untuk ikut terjatuh”

“tapi, terjatuh dan menjatuhkan diri itu beda.. “

“yang membedakannya karena sebab. Kamu terjatuh karena kamu membiarkan dirimu lupa untuk melihat sekitar ketika kamu tengah berjalan. Sehingga kamu tak bisa melihat, ada batu besar didepanmu dan akhirnya kamu terjatuh. “ ia tersenyum, menatap dengan tatapan yang bersinar,  “sedangkan aku, aku menjatuhkan diri karena aku harus menolongmu. “

“Ya. Aku bodoh, berjalan tanpa hati-hati. Di satu jalan, yang tak tau kemana arahnya.. Aku benci kabut tadi. Benci batu yang membuatku jatuh. “

“Sudahlah, jangan menyesali apa yang telah terjadi. Ambil saja hikmahnya. Lain kali jika berlajan, maka berjalanlah menuju arah yang kau tau dan kau yakini. Sehingga kamu tak dibutakan kabut, sepekat apapun itu. Dan, kamu juga harus berhati-hati. Karena tanah yang kau pijak tak selamanya datar. “

“lalu, tadi yang memanggilku, itu suaramu?”

Dia menahan tawa. Senyumnya begitu lebar, memamerkan deretan gigi yang rapih. Ah, sosok apa didepanku ini?! Didekatnya, aku begitu nyaman.

“ah, itu hanya karena aku ingin kau tau bahwa aku itu ada, menunggumu dibalik kabut.”

“kenapa kau tak menghampiriku dan mencegahku untuk berjalan? Bukankah jika begitu aku tidak akan terjatuh seperti ini?”

“aku tidak punya hak apa-apa atas jalan yang kau pilih. Padahal aku mengikuti kemana kamu berjalan, tepat tak jauh dari sampingmu. Kamu begitu asik mengikuti arah, dilihat dari bagaimana caramu berjalan. Tak ada keinginan untuk melihat ke samping, ke belakang. Terlihat rasa penasaran dibalik sinar matamu. Aku hanya bisa mengingatkan, makannya aku panggil namamu. Tapi, kamu tetap memiliki pandangan yang lurus, tak ada keinginan untuk mengikuti suaraku”

“tapi kamu seolah berada tepat didepanku, saat kamu memanggil namaku.”

“itu karena kamu terjebak diantara pekatnya kabut dan kamu tidak mencoba menyadarkan dirimu tentang apa yang tengah kamu lakukan. Kamu tidak memiliki keyakinan untuk mencari apa yang sebenarnya kamu cari. Kamu membiarkan mereka membawamu.. “ suaranya seolah mengingatkanku. Ia begitu tenang, sesekali menyelipkan senyumnya diantara jawaban yang ia ucapkan. “Ah, sudahlah. Jika kamu mau, lebih baik kamu memegang tanganku erat-erat dan kemudian mari kita bersama-sama kembali ke atas sana. “

“baiklah. “ aku menggenggam tangannya, erat. “tapi, kenapa kau begitu yakin? Jatuh dengan cara yang hati-hati, dan yakin akan berada di atas kembali dengan selamat?”

“itu, karena aku telah terbiasa. “ Ia menjawabnya penuh senyum yang hangat. Diikuti senyumku, yang tanpa sadar kubiarkan mengembang.

Kabut telah berlalu. Mentari hangat begitu menjanjikan. Hijaunya pepohonan, masih berbalut embun yang segar membuat daun dengan senang hati memberikan tempat untuknya berdiam. Udara masih sangat sejuk, pagi itu. Suara alam tentang nyanyian burung dan perpaduannya dengan angin, seolah menjadi lagu penuh rasa syukur. Aku berjalan mengikuti laki-laki itu. Laki-laki yang sepertinya telah Tuhan ciptakan darahnya dari air sungai yang mengalir tenang, matanya dari sepercik cahaya mentari pagi, hatinya yang kuat hasil dari seringnya ia mengasah diri pada hidup. Sejak saat itu, aku jatuh cinta. Dan untuk seterusnya, aku akan selalu jatuh cinta pada apa yang telah Tuhan beri untukku. Termasuk dirinya, yang hadir ditengah alam yang kucintai. Mau menolongku disaat jatuh, menggenggam tanganku erat dan memberiku semangat untuk hidup yang lebih baik. Sebelum akhirnya, dia benar-benar menjadi bumi, tempatku bernaung.

Untukmu, yang Telah Pergi

Hay, apakabar? Semoga doaku mampu mewakili segala rindu yang ada.

Rasanya lucu jika aku sedikit membicarakan tentang perasaanku kepadamu, dulu. Perasaan yang sempat menggangguku, menciptakan ketidaknormalan diatas normal. Perasaan yang kubiarkan menjadi kuat walaupun beribu cara aku lakukan agar aku tidak jatuh hati padamu. Awalnya, aku merasa baik-baik saja untuk memendam segala suka cita yang aku rasakan ketika aku melihatmu. Aku mencoba menahan diri agar terlihat biasa-biasa saja ketika kamu mengajakku berbincang, seolah tidak ada apa-apa. Semua itu berjalan baik-baik saja, sebelum semuanya berubah ketika seseorang yang menjadi teman baikmu mengetahui apa yang selama itu aku pendam. Sesak, malu, marah, bahagia, sakit, semua menjadi satu. Seseorang itu membuatku harus menceritakan bagaimana perasaanku kepadamu. Sebelum akhirnya, kamu mengetahuinya. Aku sedikit malu dan salah tingkah ketika kamu memilih untuk duduk disebelahku dan mulai membicarakan kita, saat itu. Saat kamu telah mengetahui rahasia besarku. Entah apa yang aku pikirkan, entah apa yang kamu pikirkan, dan entah apa yang mereka pikirkan. Lalu tiba-tiba muncul gossip tentang hubungan kita. Tentang hubungan yang selalu aku pertanyakan, benarkah? Dan kamu hanya berlalu dengan senyum yang memberi arti.

Sakit rasanya ketika aku harus memaksakan diri untuk bertanya satu hal pada perempuan yang berdiri disebelahku, tepat saat kita mulai merasa bahwa apa yang terjadi diantara kita hanyalah hubungan yang tidak memiliki kecocokan jika dijalani sebagai hubungan yang lebih dari sekedar berteman.

“iya.. kita jadian. “

Jawaban perempuan itu menjadi jawaban yang membuatku benar-benar ingin segera pergi, menjauh dari keramaian yang ada. Jawaban atas pertanyaanku tentang apa yang terjadi antara kamu dan perempuan itu. Tidak ada sedikitpun rasa benci padamu, atau perempuan itu. Saat itu, aku hanya membenci diriku sendiri. Karena perasaan yang tak mampu aku kendalikan yang akhirnya hanya menciptakan jarak antara kita.

Beberapa tahun telah berlalu, dan pertemuan kita yang tidak direncanakan..

Masih teringat jelas sosokmu dalam benak. Sosok yang duduk tepat di sebelahku, terakhir, saat tawa canda merangkul kita kembali pada kehangatan. Perhatikanmu, adalah rindu yang tidak pernah aku tegaskan, dan kubiarkan melebur menyatu dengan perbincangan yang ada. Lebih baik seperti itu, karena memang sudah seperti itu. Membiarkan apa yang telah lalu hanya menjadi alasanku melontarkan senyum, tak peduli kamu tau atau tidak, tak peduli kamu melihat atau tidak. Dan aku, aku hanya seseorang yang merasa bahagia. Senang, bisa bertemu denganmu lagi.

Tiba di satu malam, saat aku masih terjaga diiringi beberapa musik pilihan, lagu penghantar tidur. Saat itu hampir tengah malam, dan tiba-tiba saja telepon-ku berdering. Hmm.. nomer tanpa nama. Aku abaikan sebelum akhirnya nomer itu kembali memanggil dan aku angkat. Dan ternyata.. itu, kamu. Kamu, yang saat itu tengah menjalankan tugasmu jauh di ujung negeri. Yang pertama aku dengar, adalah suaramu yang khas. Menyapaku, bertanya soal kabarku, saling bertanya tentang apa saja, sebelum akhirnya kita saling membahas tentang apa yang terjadi diantara kita, dulu. Dan, kamu tau? Terlintas perasaan bahagia ketika aku mendengarmu menjelaskan satu hal. Tentang beberapa kesalahpahaman yang terjadi yang menyebabkan kita menjauh, dulu. Perbincangan kita malam itu bukan perbincangan yang serius, tapi perbincangan yang dikemas dengan kehangatan dan penuh tawa canda. Saat itu, yang ada dalam pikiranku hanya memaklumi tentang bagaimana kita, dulu. Dulu, kita hanya seorang anak yang mulai beranjak remaja, yang baru mengenal bagaiamana rasa menyukai seseorang, yang merasa telah mengerti tentang hal yang sebenarnya belum kita mengerti. Dan malam itu, kita sepakat untuk memaknai apa yang terjadi di masalalu hanya merupakan bagian dari warna-warni kehidupan yang baru kita mulai.

Tak terasa, perbincangan kita melalui telepon malam itu telah memakan waktu yang lumayan lama. Satu setengah jam kita berbincang, dan akhirnya kita kehabisan bahan perbincangan. Kita saling berdiam, lalu tiba-tiba saja aku mendengar nafasmu yang terengah. Seperti diterpa kepalan tangan yang menghantam dadamu. “kenapa?” tanyaku. Lalu akhirnya, kamu mulai menceritakan rasa sakitmu. Rasa sakit untuk menahan kerinduan yang tidak bisa diungkapkan lagi oleh kata-kata. Merindukan keluargamu yang jauh dari dirimu. Disela isak tangismu, kamu bertanya tentang dirimu. Bagaimana kamu harus melewatinya, bagaimana kamu harus menjalaninya.. Tawa candamu, berubah menjadi isak tangis yang tidak akan pernah kulupa sampai kapanpun.

Setelah perbincangan kita malam itu, kabarmu turut menghilang dari jangkauanku. Sepertinya, kamu telah menemukan rasa nyamanmu dalam bertugas. Semoga. Pikirku saat itu. Dan aku mulai membiarkan diriku untuk tidak memikirkanmu. Hari-hari aku lalui seperti biasa. Kabar darimu tidak lagi aku ungkit karena kita memang telah hidup masing-masing. Beberapa bulan dari perbincangan kita malam itu, akhirnya aku mendapatkan kabar tentangmu. Kabar yang menyatakan bahwa kamu saat itu sedang dirawat dirumah sakit. Lalu beberapa hari kemudian kabar itu menghilang, dan aku mengira bahwa kamu telah pulih kembali. Namun, perkiraanku salah. Kabar buruk yang aku terima tentang kondisimu bahwa kamu koma dirumah sakit. Sakit, memang. Mendengar kondisimu yang memburuk. Terlebih saat aku mendapat kiriman foto yang menjelaskan bagaimana beratnya cobaan yang kamu dapatkan. Terbaring tak sadarkan diri ditemani selang-selang yang, entahlah, entah untuk apa. Apa yang sebenarnya menjadi penyakitmu? Aku terus bertanya-tanya, kesana kemari mencari kabar, sebelum akhirnya aku benar-benar mendapatkan kabar terburuk tentang kondisimu. Lemas, sakit, sesak, rasa tak percaya, ketika aku harus mendengar bahwa kamu telah tiada, pergi untuk selamanya.

Tidak pernah aku menyangka, bahwa pertemuan kita yang terakhir kalinya benar-benar menjadi pertemuan terakhirku denganmu, dan perbincangan kita ditelepon yang terakhir kali merupakan perbincangan terakhirku denganmu. Mengapa harus secepat itu? bukankah kita pernah berbincang mengenai harapan masing-masing dari kita di masa depan? Bukankah kamu pernah membicarakan mimpi dan harapanmu di masa depan? Bukankah kamu akan mengundangku saat kamu menikah kelak? Bukankah kamu ingin memiliki anak yang sama kuatnya denganmu? Bukankah masih banyak yang ingin kamu lalui dalam hidupmu? Lalu, mengapa harus secepat itu?

Hingga akhirnya aku meyakini satu hal atas kepergianmu yang begitu cepat. Aku yakin, bahwa Tuhan benar-benar menyayangi dirimu.

 

            Untukmu, yang sempat menjadi bahagia atas hidupku,

            Untukmu, yang sempat menaruh sakit dalam hatiku,

            Untukmu, untuk pertemuan kita, untuk perbincangan kita,

Untukmu, yang hingga kini kusebut teman,

Untukmu, yang telah pergi..

            Terimakasih, atas warna yang telah menciptakan warna lain dalam hidupku.

            Ku titipkan rinduku pada setiap doa yang kupanjatkan,

Semoga Tuhan tidak mengingkari janjiNya.


Saat Sebelum Gelap Menjemput Terang

Angin mulai bertiup tak beraturan. Terang telah bertemu dengan gelap, memadu kasih menciptakan warna yang entahlah, terkadang marun terkadang keemasan. Kusebut, senja. Mereka sebut, senja. Layang-layang yang terbang pasrah mengikuti angin turut serta menghiasi langit senja, sore ini. Menegaskan tentang ketenangan yang maha dahsyat. Dan saat itulah saat dimana bising yang ada mulai teredam, langkah-langkah cepat mulai melambat, bahkan beberapa pikiran yang telah menguji kesabaran seharian ini mulai berpergian entah kemana. Biarlah. Biarkan saja pergi. Biarkan hanya tenang yang menyelimuti hati dan fikiranku, mencoba mensyukuri hari yang akan berakhir ini.. Lalu, apalagi? Ditemani secangkir kopi, aku tuangkan rangkaian kata yang ada dalam benakku pada robekan robekan kertas. Sambil menikmati setiap detik yang berlalu, menanti gelap menjemput terang.